“Guru di Tengah Kekacauan Teladan Publik: Mengajar di Era yang Membingungkan”

Di tengah tuntutan besar untuk mencerdaskan dan membentuk akhlak generasi bangsa, guru justru berdiri paling rapuh ketika teladan publik semakin menjauh dari nilai-nilai yang mereka ajarkan.

Oleh : Amir Hady (Sekretaris PW Muhammadiyah Kaltim)

Setiap kali Hari Guru tiba, ada rasa haru dan bangga yang mengalir di kalangan pendidik. Namun di balik senyum dan ucapan selamat, banyak guru menyimpan kegelisahan yang tak terucapkan. Mereka menghadapi realitas yang semakin rumit: wibawa guru menurun, tuntutan meningkat, sementara lingkungan sosial justru menampilkan contoh buruk yang bertolak belakang dengan apa yang mereka ajarkan.

Guru di Indonesia memikul tugas sangat besar. Mereka tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, dan memahami pelajaran. Lebih dari itu, guru dituntut menanamkan akhlak, membentuk karakter, mengajarkan disiplin, menguatkan moral, mengajak menghormati orang tua, hingga mempersiapkan anak menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Tugas sebesar itu seharusnya dibarengi dengan dukungan moral dan sosial yang kuat. Namun kenyataannya tidak begitu.

Guru sering harus menghadapi fenomena yang menyakitkan: mereka diminta mengajarkan nilai-nilai mulia, sedangkan contoh yang muncul di mata para siswa justru sebaliknya. Ketika guru menekankan kejujuran dan integritas, berita korupsi justru berseliweran setiap hari. Saat guru menanamkan disiplin, mereka melihat pejabat saling menghina di televisi, influencer merayakan sensasi daripada prestasi, atau orang dewasa melanggar aturan lalu lintas tanpa rasa bersalah. Para murid menyerap itu semua, dan bertanya dalam diam: “Mengapa kami harus patuh kalau orang dewasa saja tidak?”

Inilah tantangan terbesar guru hari ini: mereka mengajarkan sesuatu yang tidak didukung lingkungan sekitar. Guru mengajarkan sopan santun, tetapi sebagian figur publik mempertontonkan gaya komunikasi yang kasar. Guru menanamkan etika, tetapi media sosial memuja popularitas instan. Guru mendisiplinkan anak, tetapi orang tua kadang justru mempertanyakan bahkan mengintervensi tindakan pendisiplinan itu. Di titik inilah guru merasa berdiri sendiri.

Keadaan menjadi semakin rumit ketika muncul fenomena kriminalisasi guru. Tidak sedikit guru yang dilaporkan hanya karena menegur, menasihati, atau memberikan pendisiplinan wajar. Ruang gerak guru menyempit. Guru menjadi takut melakukan tindakan yang seharusnya menjadi bagian inti dari proses pendidikan. Ketika guru takut mendidik, pendidikan pun kehilangan arah.

Di banyak sekolah, guru berjuang bukan hanya mengatur kelas atau menyusun rencana pembelajaran, tetapi juga menata kembali semangat dan mental mereka sendiri agar tetap kuat menghadapi tekanan sosial. Mereka harus terus bersabar, terus menahan diri, sambil tetap memikirkan generasi yang mereka bentuk.

Padahal, jika melihat sejarah bangsa, guru selalu menjadi pilar moral. Di masa perjuangan kemerdekaan, guru menjadi pembentuk karakter bangsa. Di masa pembangunan, guru menjadi agen perubahan. Hari ini pun seharusnya demikian, tetapi tekanan yang mereka hadapi semakin berat.

Guru tidak menuntut untuk dipuja. Mereka hanya ingin dihargai. Mereka tidak mengharapkan kekayaan. Mereka hanya ingin didukung. Guru tidak meminta lingkungan menjadi sempurna. Mereka hanya ingin teladan sosial tidak bertolak belakang dengan nilai yang mereka tanamkan.

Solusi tentu tidak dapat diserahkan pada guru semata. Masyarakat harus menjadi teladan, orang tua harus menjadi mitra, pejabat harus memberi contoh, media harus memberikan ruang bagi nilai-nilai kebaikan, dan pemerintah perlu memberikan perlindungan hukum yang memadai. Ekosistem pendidikan harus menjadi karya bersama, bukan beban guru sendirian.

Pada akhirnya, meskipun wibawa guru menurun secara sosial, nilai tugas mereka tidak pernah menurun. Selama bangsa ini masih berdiri, guru akan selalu menjadi fondasi. Namun fondasi pun perlu diperkuat, agar bangunan besar bernama Indonesia tidak runtuh oleh lemahnya keteladanan generasi yang dibentuk tanpa dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Hari Guru seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri: Sudahkah kita membantu guru mendidik? Ataukah kita justru memperberat tugas mereka?
Karena tanpa guru yang kuat, tidak akan ada bangsa yang hebat.

Read more: https://kabarmuh.id/guru-di-tengah-kekacauan-teladan-publik-mengajar-di-era-yang-membingungkan/

Posting Komentar

0 Komentar