Oleh: Pemerhati Bangsa dan Masa Depan Indonesia (Rohmad Mucharom)
Indonesia adalah negeri yang diberkahi tanah yang subur, hujan yang cukup, dan sinar matahari sepanjang tahun. Kita memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dan ribuan jenis tanaman pangan, buah, rempah, dan komoditas unggulan dunia. Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung. Mengapa Thailand bisa mengekspor lebih banyak hasil pertanian daripada Indonesia? Mengapa petani kita masih miskin?
Sebagai rakyat yang mencintai negeri ini, saya merasa sudah waktunya kita mengubah pola pikir dan strategi besar pertanian nasional. Jika saya seorang menteri pertanian atau pengambil kebijakan, saya tidak akan membiarkan tanah subur ini hanya menjadi latar belakang berita kemiskinan petani.
Saya akan membuat perubahan nyata, dimulai dari satu kalimat kunci:
“Ekspor hasil pertanian berkualitas premium untuk menguasai dunia, dan gunakan keuntungannya untuk menyejahterakan petani, mensubsidi pangan rakyat, serta mendanai riset dan alat produksi pertanian.”
- Tanah Kita Kaya, Tapi Kita Tidak Punya Peta
Masalah utama pertanian Indonesia adalah kita tidak punya pemetaan yang tegas tentang daerah cocok tanam. Petani menanam apa yang mereka bisa, bukan apa yang paling cocok dan paling menguntungkan di wilayah mereka.
Saya akan memulai dengan Pemetaan Nasional Komoditas Pertanian berbasis data tanah, iklim, dan potensi daerah. Contoh sederhana:
- Sumatera Barat → Kopi arabika & kakao fermentasi
- Sumatera Selatan → Sawit berkelanjutan & padi rawa
- Jawa Tengah → Sayur dataran tinggi & bawang merah
- Jawa Timur → Tebu, jagung, dan hortikultura
- Kalimantan Timur → Karet & buah tropis
- Sulawesi → Kakao, kelapa, dan jagung
- NTT → Sorgum, kapas, jagung toleran kering
- Papua → Rempah, kopi, buah tropis asli Indonesia
Dengan pemetaan ini, kita tidak membiarkan petani berjalan sendiri. Negara hadir memberi arah dan kepastian.
- Ekspor Premium untuk Menguasai Dunia
Kita terlalu lama hanya menjadi eksportir bahan mentah berkualitas rendah. Dunia tidak mengenal Indonesia sebagai produsen kopi terbaik, padahal kita punya potensi kopi arabika dari Aceh sampai Toraja yang bisa menyaingi Brazil dan Ethiopia.
Maka saya akan dorong ekspor hasil pertanian premium, seperti:
- Kopi arabika specialty
- Kakao fermentasi
- Manggis dan mangga harum manis
- Beras organik
- Sayuran hidroponik bebas residu
- Rempah-rempah tropis (jahe merah, kayu manis, kapulaga)
Hanya hasil terbaik yang kita ekspor. Kita tidak mengekspor dalam jumlah besar asal-asalan, tapi menargetkan pasar high-end dunia yang menghargai kualitas dan cerita dibalik produk.
Kita tidak ingin hanya jadi negara pengekspor. Kita ingin jadi negara yang dikenal karena kualitas makanannya seperti Jepang dikenal dari wagyu dan Thailand dari beras melatinya.
- Keuntungan Ekspor Jadi Dana Kedaulatan Pangan & Inovasi
Strategi saya sederhana tapi revolusioner: Keuntungan dari ekspor hasil pertanian premium akan disisihkan menjadi Dana Kedaulatan Pangan Nasional.
Dana ini akan digunakan untuk tiga tujuan utama:
- Membeli hasil panen petani dengan harga tinggi
Petani akan senang, karena:
- Panen mereka dibeli oleh negara dengan harga diatas pasar
- Mereka tidak lagi menanggung risiko fluktuasi harga
- Ada jaminan pembeli dan kepastian pendapatan
- Menjual kembali hasil tersebut dengan harga murah ke rakyat
- Distribusi melalui pasar tradisional, koperasi, warung rakyat
- Menekan harga pangan tanpa menyengsarakan petani
- Menstabilkan inflasi dan meningkatkan daya beli rakyat
- Mendanai riset & bantuan alat produksi pertanian
- Riset pertanian unggul lokal: benih adaptif, pupuk organik, pestisida ramah lingkungan
- Inovasi pengolahan pascapanen: pengeringan, fermentasi, pengemasan
- Subsidi alat modern: traktor mini, pengolah tanah, alat semprot pintar
Hasilnya: kerja petani makin efisien, panen makin berkualitas dan kompetitif.
- Swasembada Pangan Tanpa Menyengsarakan Petani
Selama ini, konsep swasembada pangan sering menekan harga beli dari petani. Negara ingin harga murah, tapi petani jadi korban.
Dengan sistem ini:
- Negara subsidi dari keuntungan ekspor, bukan menekan petani
- Petani dibayar mahal, rakyat membeli murah
- Negara mandiri pangan tanpa menindas produsen lokal
Contoh:
- Ekspor beras organik dengan harga Rp 25.000/kg ke Jepang
- Keuntungannya digunakan untuk membeli beras medium petani Rp 12.000/kg
- Lalu dijual ke masyarakat Rp 9.000/kg
- Petani Adalah Profesi Masa Depan
Selama ini, anak muda tidak mau menjadi petani karena dianggap pekerjaan kasar dan miskin. Padahal, jika sistemnya benar, pertanian bisa menjadi:
- Lapangan kerja berteknologi tinggi
- Sumber penghasilan besar
- Kebanggaan nasional
Dengan sistem ini, petani akan:
- Diberi akses informasi lewat aplikasi “Petani Cerdas Nusantara”
- Mendapat pelatihan dan sertifikasi “Petani Profesional”
- Terhubung ke pasar ekspor dan industri pengolahan
- Bangun Infrastruktur Penunjang
Kita tidak bisa bicara ekspor atau swasembada jika hasil tani rusak di jalan, membusuk di gudang, atau tidak punya fasilitas pascapanen.
Maka negara harus:
- Membangun cold storage di sentra pertanian
- Memperluas jalan tani dan irigasi pintar
- Menyediakan alat pengolah dan pengemasan hasil panen
- Membuat pusat logistik dan distribusi pangan di tiap kabupaten
- Pertanian Adalah Strategi Geopolitik
Di masa depan, dunia akan kekurangan pangan. Negara yang bisa memberi makan rakyatnya sendiri dan mengekspor ke negara lain akan menjadi kekuatan global.
Indonesia harus:
- Menjadi pusat buah tropis dan rempah dunia
- Menjadi lumbung pangan sehat untuk Asia
- Menjadi negara eksportir premium, bukan hanya mentah
- Menjadi pemimpin pangan dunia
Kita tidak perlu meniru negara lain. Kita cukup menjadi versi terbaik dari Indonesia yang mencintai dan memuliakan petaninya.
Penutup: Bangga Bertani, Bangga Indonesia
Indonesia adalah negeri yang bisa memberi makan dunia. Tapi sebelum itu, kita harus pastikan “Petani kita cukup makan dan hidup Sejahtera”.
Mari kita bangun sistem baru:
- Tanah subur → dikelola ilmiah
- Petani → diberdayakan & dimuliakan
- Hasil tani → jadi kekuatan ekonomi & diplomasi
- Ekspor → jadi sumber subsidi, riset, dan efisiensi nasional
Saatnya petani tak sekadar bertahan. Tapi bangkit, memimpin, dan mengangkat wajah Indonesia di mata dunia.
Editor: Muhammad Farhan
Read more: https://kabarmuh.id/indonesia-subur-tapi-tak-makmur-saatnya-pertanian-jadi-senjata-utama-negeri/
0 Komentar