Oleh: Rizky Aldiansyah
Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, memberikan sumber utama ilmu pengetahuan, moralitas, dan petunjuk hidup bagi semua orang. Sejak masa Rasulullah saw hingga saat ini, Al-Qur’an telah dipelajari, dihayati, dan diamalkan dalam berbagai aspek kehidupan. Sejak masa sahabat hingga kini, tradisi talaqqi dan tahfidz tetap menjadi dasar pembelajaran Qur’an.
Seorang guru atau qari’ mengajarkan bacaan secara talaqqi (tatap muka), dan murid mendengarkan, meniru, dan memperbaiki kesalahan mereka dengan bimbingan langsung dari guru. Alat pendidikannya sederhana: mushaf, papan tulis, dan suara guru yang tekun. Metode ini menumbuhkan kedekatan spiritual antara pendidik dan muridnya, menumbuhkan rasa hormat, adab, dan keikhlasan dalam belajar.
Namun, perubahan global tidak dapat dihindari seiring dengan berjalannya waktu. Dunia pendidikan telah memasuki era baru yang dikenal sebagai Society 5.0. Pada era ini, teknologi dan manusia bekerja sama untuk menyeimbangkan kemajuan digital dengan nilai-nilai manusia. Pembelajaran Al-Qur’an juga mengalami perubahan besar dalam konteks ini. Belajar sekarang dapat dilakukan di mana saja melalui ponsel, laptop, dan jaringan internet, bukan lagi di masjid atau madrasah.
Kemajuan teknologi telah membuka jendela baru bagi umat Islam untuk lebih mudah dan menarik mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Banyak orang sekarang menggunakan aplikasi digital, platform interaktif, dan media sosial untuk belajar Al-Qur’an. Anak-anak dan remaja dapat belajar tajwid melalui animasi, remaja dapat mendengarkan tafsir melalui podcast, dan para penghafal Al-Qur’an dapat menyetorkan hafalan melalui panggilan video dengan guru mereka. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak terancam oleh teknologi; sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperluas dakwah dan pembelajaran Qur’ani.
Perubahan ini menyampaikan pesan penting bahwa Islam tidak menentang modernitas, tetapi mengajarkan pengikutnya untuk mengendalikan perubahan dengan cara yang bijak. Teknologi menjadi bagian dari ibadah dan amal saleh saat digunakan untuk menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an. Perjalanan dari mushaf ke media digital menunjukkan bahwa Islam selalu relevan dan adaptif terhadap zaman.
Transformasi dari Tradisional ke Digital
Pembelajaran Al-Qur’an selalu menjadi dasar dari proses pembentukan nilai dan pembentukan karakter dalam sejarah pendidikan Islam. Belajar Al-Qur’an pada masa lalu tidak hanya sederhana tetapi juga penuh makna. Dua alat utama dalam proses pengajaran adalah mushaf dan papan tulis. Di masa itu, guru berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan contoh moral. Tidak hanya pengetahuan ditransfer, tetapi juga contoh diajarkan. Murid tidak hanya belajar dari kata-kata, tetapi juga dari sikap dan perilaku gurunya.
Sesuatu yang menjadi ciri khas talaqqi dan musyafahah dalam tradisi Qur’ani adalah pendekatan ini yang membangun hubungan yang kuat secara emosional dan spiritual antara guru dan siswa mereka. Kemajuan teknologi mengubah pola belajar Qur’an menjadi lebih interaktif dan kreatif. Dengan kemajuan teknologi, ada kesempatan baru yang lebih luas, interaktif, dan kreatif untuk mempelajari Al-Qur’an. Untuk belajar membaca dan memahami Al-Qur’an sekarang tidak perlu berada di masjid atau pesantren
Lalu timbulah beragam aplikasi seperti Muslim Pro, dan Qur’an Kemenag Digital membantu orang membaca, mendengarkan, dan bahkan mempelajari tafsir dan terjemahan Al-Qur’an dengan cepat. Teknologi audio-visual memungkinkan pengguna membandingkan makhraj, mendengarkan lantunan para qari di seluruh dunia, dan memperbaiki bacaan dengan bantuan asisten tajwid otomatis.
Selain itu, muncul berbagai platform pembelajaran interaktif, seperti Tahsin Online, Class Qur’an Digital, dan Qur’an Tutor Virtual, yang memadukan ide-ide video konferensi, sistem manajemen pendidikan (LMS), dan latihan interaktif berbasis animasi. Platform ini mengubah pendidikan menjadi dialogis dan berpartisipasi. Guru dan siswa dapat mengembangkan kegiatan belajar yang berbasis Qur’ani, seperti diskusi, evaluasi, dan refleksi tafsir tematik.
Dengan transformasi ini, wajah pendidikan Qur’ani berubah dari model tradisional yang berpusat pada guru menjadi model baru yang berpusat pada siswa. Model baru ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang berkontribusi pada pencarian makna Al-Qur’an. Mereka tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga diajak untuk mempelajarinya dan mengaitkannya dengan situasi dunia nyata. Namun, digitalisasi tidak berarti menghapus nilai-nilai tradisi.
Sebaliknya, nilai-nilai seperti ketelatenan, kesungguhan, dan adab yang diwariskan oleh metode klasik harus menjadi ruh dari inovasi digital. Pembelajaran Al-Qur’an memerlukan hubungan hati, niat yang tulus, dan cinta terhadap kalam Allah, sedangkan teknologi hanyalah sarana. Oleh karena itu, pergeseran dari digital ke tradisional hanya menambah ruang untuk pendidikan dan dakwah daripada pergeseran makna. Semangat untuk mencintai dan memahami Al-Qur’an terus berlanjut dari mesjid hingga layar, dari papan tulis hingga platform online, menunjukkan bahwa firman Allah tetap relevan sepanjang zaman dan setiap kemajuan teknologi manusia.
Inovasi Media dalam Pembelajaran Al-Qur’an
Transformasi digital menghadirkan media kreatif dan interaktif dalam pembelajaran Al-Qur’an. Inovasi media tidak sekadar memindahkan teks mushaf ke layer digital. Inovasi ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat membantu orang memperkuat kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an dan mempercepat proses belajar yang selama ini terbatas oleh ruang dan waktu. Media pembelajaran dalam pendidikan Islam berfungsi sebagai alat bantu visual dan memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat. Jika digunakan dengan benar, pesan Al-Qur’an dapat disampaikan dengan lebih mudah dipahami, menarik, dan relevan dengan dunia modern.
Saat ini, guru dan pendidik tidak hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan pelajaran; mereka juga bertanggung jawab untuk membangun proses belajar Qur’ani, yang mencakup aspek afektif, kognitif, dan spiritual. Salah satu jenis inovasi utama media pembelajaran Al-Qur’an yang berkembang pesat di era Society 5.0 adalah sebagai berikut:
- Video, animasi, dan permainan Qur’ani kini membantu anak-anak belajar dengan cara menyenangkan sekaligus mendidik. Konsep nilai-nilai Islam dapat disampaikan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami melalui animasi cerita Qur’ani, seperti kisah Nabi dan rasul. Selain itu, video animasi dapat menawarkan tafsir tematik, penjelasan hukum tajwid, dan refleksi makna ayat dengan tampilan visual yang menarik dan kontemporer.
- Game Edukasi Qur’ani di seluruh dunia mulai digunakan untuk mengajar Al-Qur’an, terutama untuk anak-anak. Siswa dapat belajar dengan cara yang menyenangkan namun bermakna melalui permainan seperti Quiz Tajwid, Perjalanan Qur’ani, atau Puzzle Huruf Hijaiyah. Konsep ini membantu menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan cara yang jelas dan menumbuhkan keinginan unt uk belajar secara alami.
Tantangan di Balik Kemajuan
Kemajuan teknologi dalam pembelajaran Al-Qur’an memang membuka banyak peluang. Namun, meskipun inovasi digital tampak mudah dan menarik, ada beberapa masalah besar yang harus dipertimbangkan dengan cermat. Pembelajaran digital menuntut keseimbangan antara kemudahan akses dan nilai spiritual. Menurunnya interaksi spiritual antara pendidik dan siswa merupakan salah satu tantangan utama.
Belajar Al-Qur’an dalam Islam bukan sekadar memperoleh pengetahuan tetapi juga memperoleh adab dan pembentukan ruhani. Hubungan tatap muka yang sarat keteladanan berkurang ketika pendidikan dilakukan secara online. Meskipun murid dapat memahami teks, mereka tidak memiliki kontak langsung dengan guru, yang merupakan ciri khas talaqqi dalam pendidikan Qur’ani.
Selain itu, ketergantungan teknologi menimbulkan risiko. Pelajar sering menggunakan aplikasi digital untuk membaca Al-Qur’an tanpa memahami makhraj, tajwid, atau adabnya. Karena kecenderungan ini, orang mungkin percaya bahwa teknologi modern sudah cukup untuk menggantikan peran guru. Namun, bimbingan ahli tetap penting untuk menjaga pemahaman tetap konsisten. Akurasi teks dan sanad keilmuan adalah masalah tambahan.
Tidak semua media digital dapat dianggap valid. Ada aplikasi atau situs yang menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kesalahan penulisan, terjemahan yang tidak tepat, atau bahkan tafsir yang tidak jelas dari mana sumbernya berasal. Ini sangat berbahaya karena kesalahan kecil dalam teks atau makna dapat menyebabkan pemahaman agama yang salah. Oleh karena itu, kurasi dan sertifikasi media pembelajaran digital Al-Qur’an sangat penting bagi pemerintah dan institusi pendidikan untuk menjaga standar keilmuan.
Sebaliknya, disrupsi digital menimbulkan masalah baru tentang fokus dan etika belajar. Semangat untuk belajar Al-Qur’an mudah terganggu di tengah derasnya notifikasi media sosial, iklan, dan hiburan digital. Sekarang, majelis Qur’ani memiliki suasana yang lebih multitasking, seperti belajar sambil membuka media sosial atau mendengarkan musik.
Untuk menyelesaikan tantangan ini, guru dan siswa harus menanamkan disiplin spiritual digital, yaitu kemampuan untuk menggunakan teknologi tanpa kehilangan integritas. Peran pendidik menjadi semakin strategis dan penting di tengah semua kesulitan itu. Guru kini tak hanya menguasai bacaan dan tafsir, tetapi juga perlu literasi digital Qur’ani agar teknologi menjadi sarana, bukan tujuan.
Editor: Muhammad Farhan
Read more: https://kabarmuh.id/mushaf-di-ujung-jari-transformasi-pembelajaran-al-quran-di-era-digital-5-0/
0 Komentar