Oleh: Najib Maulana Alfikri
Dengan melihat rentetan berita akhir-akhir ini, banyak dari kita telah menyaksikan teater tragedi yang diputar berulang-ulang. Jet tempur serta rudal selalu ada di langit malam dan warga sipil serta anak-anak tak berdosa menangis di atas puing-puing peradaban mereka sendiri. Di sisi lain, para pemimpin negara berbalut jas rapi sedang menandatangani kesepakatan bernilai miliaran dolar untuk memproduksi lebih banyak senjata. Ketegangan yang terus memanas antara kekuatan besar Amerika Serikat, Israel, dan Iran, bagi banyak orang yang mencoba untuk memahami nya, rentetan konflik yang merupakan representasi nyata dari puncak rasa frustrasi global.
Kita tidak bisa menafikan perkembangan zaman yang selalu berubah. Hari ini, umat manusia berada di titik paling cemerlang. Dalam beberapa tahun terakhir ini, salah satu tokoh telah memproyeksikan dirinya untuk hidup dan mempunyai pabrik di Planet Mars serta kecerdasan buatan yang ingin dibuat menyerupai manusia. Di sisi lain, Institusi-institusi global yang dibangun pasca-Perang Dunia II dengan janji manis tentang hak asasi manusia dan perdamaian dunia—kini tampak seperti macan kertas yang lumpuh dan kehilangan wibawanya di hadapan hegemoni kekuasaan.
Kemajuan dan Keserakahan yang Membakar Dunia
Untuk memahami akar dari kekacauan Timur Tengah dan dunia saat ini, kita harus melihat analisis politik tentang batas negara atau aliansi militer. Apa yang kita saksikan hari ini sebagai bentuk kegagalan dari proyek modernitas yang terlalu mendewakan rasionalitas materialistik. Yang mengira bahwa dengan ilmu pengetahuan dan kapitalisme, mereka akan bisa menciptakan surga di bumi. Meminjam teori dari filsuf Thomas Hobbes yang pernah menggambarkan sisi gelap sifat dasar manusia: Homo homini lupus—manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ketika kekuasaan dan kekayaan menjadi tujuan akhir, negara-negara yang rela memangsa bangsa lain demi mempertahankan kekuasaan dan mengamankan sumber daya alam.
Timur Tengah selalu menjadi pusaran konflik, karena kita tau bahwa ia adalah jantung geopolitik dunia, tempat di mana energi minyak dan gas besar berada. Perseteruan antara Amerika Serikat, Israel, dan proksi-proksi Iran pada dasarnya digerakkan oleh satu insting tentang keserakahan untuk menguasai.
Ribuan tahun yang lalu, Rasulullah telah memberikan peringatan tentang tabiat destruktif manusia di wilayah tersebut. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW memperingatkan:
“Kiamat tidak akan terjadi sampai Sungai Efrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia saling berbunuh-bunuhan untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang yang berperang, sembilan puluh sembilan orang akan binasa. Dan setiap orang dari mereka berkata, ‘Mudah-mudahan akulah orang yang selamat’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Gunung emas yang tersingkap dari Sungai Efrat, sungai yang membelah Suriah dan Irak—pusat konflik hari ini bisa dimaknai secara harfiah sebagai kekayaan yang belum ditemukan, namun banyak pemikir kontemporer memaknainya sebagai kiasan untuk minyak bumi atau sumber daya tak ternilai yang memicu ambisi negara-negara adidaya.
Narasi dari hadist tersebut yang mengatakan 99 dari 100 orang akan mati menjadi peringatan. Yang oleh Hannah Arendt, sebagai filsuf politik Jerman dalam teorinya telah memberikan istilah Banalitas Kejahatan—suatu masa di mana hilangnya nyawa manusia direduksi hanya untuk menjadi statistik pelengkap berita, dan kekejaman peperangan dianggap sebagai kewajaran yang rutin.
Dalam logika perang modern, tidak ada lagi pihak yang benar-benar menang. Yang tersisa hanyalah kepastian akan kehancuran massal yang ditanggung bersama. Nabi Muhammad SAW pun secara eksplisit melarang siapa pun yang hidup di zaman itu untuk mengambil emas tersebut. Pesan moralnya, kekayaan yang diperebutkan melalui pertumpahan darah dan penindasan adalah kekayaan yang dikutuk. Bagi umat Islam dan umat manusia yang sadar, peringatan ini menjadi seruan untuk melepaskan diri dari sistem yang dibangun di atas keserakahan, karena ikut campur dalam perebutan yang zalim hanya akan membawa pada kebinasaan.
Menjemput Keadilan Tanpa Menjadi Fatalis
Semakin hari, ketidakadilan terasa semakin telanjang. Hukum internasional tampak tumpul ke kepada negara adidaya dan sekutunya dan tajam ke kepada negara-negara berkembang dan wilayah terjajah. Kondisi ini jelas memunculkan rasa frustrasi, di sisi lain, menumbuhkan kerinduan dan harapan akhir zaman di hati umat manusia. Yang secara naluriah, jiwa manusia merindukan sosok manusia adil, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Al-Mahdi, sang pembawa petunjuk, yang akan memimpin di akhir zaman bersama turunnya Nabi Isa AS untuk memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.
Memang, kita pun sudah lama menyadari bahwa dunia sedang menuju fase-fase akhir perjalanannya sesuai dengan nubuatan Nabi Muhammad SAW tentang sikap fatalis. Banyak dari kita, ketika melihat kehancuran di Gaza, ketegangan nuklir Iran-Israel, dan kemunafikan Amerika, telah merasa bahwa semua ini sudah takdir akhir zaman. Dengan berdalih pada hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah bersabda: “Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, melainkan zaman setelahnya akan lebih buruk dari sebelumnya, sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (HR. Bukhari).
Jadi, jka zaman pasti akan semakin buruk dan perang besar pasti terjadi, lalu untuk apa kita berusaha? Bukankah lebih baik bersembunyi, beribadah sendiri, dan menunggu kedatangan Imam Mahdi?
Pandangan pasif dan fatalis semacam ini sangat bertentangan dengan ruh Islam dan esensi kemanusiaan itu sendiri. Meminjam teori dari Pemikir Islam, Muhammad Iqbal, dalam filsafat Khudi, menekankan bahwa manusia sebagai rekan kerja Tuhan di bumi. Menanti keadilan universal bukan berarti kita duduk diam dengan tangan terlipat dan membiarkan kezaliman merajalela di depan mata kita. Imam Mahdi yang bermakna yang diberi petunjuk tidak akan memimpin umat yang lumpuh, penakut, dan bodoh. Pemimpin yang adil hanya akan lahir dari rahim masyarakat yang juga memperjuangkan keadilan.
Korelasinya dengan kondisi saat ini adalah, solusi yang harus dilakukan oleh seluruh manusia, terutama kaum muslimin adalah dengan melakukan revolusi dari dalam. Kita harus membangun keadilan mulai dari lingkaran terkecil. Di saat dunia telah dikuasai oleh kebohongan dan narasi media yang menipu, maka perlawanan kita adalah dengan menjadi manusia yang tabayyun dan menolak pada narasi propaganda.
Jika peperangan global dipicu oleh sistem kapitalisme dan ekonomi yang rakus, maka perlawanan kita adalah dengan berhenti menjadi konsumen yang konsumtif, dengan mulai membangun kemandirian pangan, mencintai produk lokal, dan mendukung upaya pemboikotan terhadap institusi yang mendanai perang dan genosida.
Sikap apatis menjadi musuh terbesar kemanusiaan hari ini. Bahkan jika kita tahu besok kiamat akan terjadi, tugas manusia bukan hanya menghitung detik-detik kehancuran, tetapi harus tetap menanam benih kebaikan di tangannya hari ini. Jika melihat kembali penderitaan saudara-saudara kita di wilayah konflik adalah ujian bagi empati global. Menangisi mereka adalah tanda kemanusiaan kita masih hidup, namun bertindak nyata—melalui donasi, tekanan diplomatik, mengedukasi generasi muda tentang sejarah yang benar, dan doa yang tak terputus—adalah tanda bahwa keimanan kita masih bernyala.
Dunia mungkin sedang berada di senjakalanya, terbakar oleh ilusi kemajuan dan nafsu kuasa dari bangsa-bangsa yang lupa diri. Maka, tugas kita adalah untuk terus menjaga kewarasan, memelihara empati, dan merawat cahaya keadilan di hati kita masing-masing, sehingga ketika fajar keadilan yang dijanjikan itu tiba dan kita akan ditemukan dalam barisan orang-orang yang tetap teguh mempertahankan kemanusiaan dan keimanannya.
Read more: https://kabarmuh.id/menanti-al-mahdi-mengapa-umat-islam-tidak-boleh-menjadi-penonton-zaman/
0 Komentar