Ketika Dunia Tak Lagi Kokoh

Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Dalam hidup yang tampak megah, kita sering merasa aman oleh rumah yang kokoh, kendaraan yang mewah, dan harta yang seolah takkan habis. Namun ketika Allah mengguncang bumi, barulah kita tersadar betapa rapuh sandaran selain-Nya. Musibah bukan sekadar peringatan, tetapi undangan lembut untuk kembali, merenung, dan memperbaiki hati yang sering terpaut pada dunia.

Dalam setiap perjalanan hidup, manusia kerap merasa telah memiliki segalanya. Rumah indah yang berdiri kokoh seakan menjadi benteng dari segala ancaman. Mobil mewah yang bernilai ratusan juta tampak mampu membawa kita ke mana saja tanpa kekhawatiran. Hewan ternak yang sehat, sawah dan kebun yang subur, semuanya seperti kesinambungan rezeki yang tak terbantahkan. Namun dalam sekejap, seluruhnya bisa berubah menjadi sumber ketakutan ketika Allah mengizinkan bumi bergoncang, angin menerjang, dan gunung memuntahkan isi perutnya. Saat itu kita memahami, dunia tidak pernah benar-benar kuat.

Allah telah mengingatkan manusia tentang kerapuhan dunia dalam firman-Nya:

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ﴾
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam memperbanyak harta serta keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini tidak lahir sebagai kalimat hampa, tetapi sebagai peringatan lembut agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia yang sementara. Rumah megah hanyalah tumpukan bata. Sawah hijau hanyalah titipan. Semua dapat hilang, bukan hanya karena bencana besar, tetapi juga oleh perjalanan waktu yang selalu menggerus.

Hasrat Dunia yang Tak Pernah Kenyang

Dalam hadis Nabi ﷺ, kita diingatkan agar tidak hanyut dalam bangga pada harta. Beliau bersabda:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ»
“Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan menginginkan lembah ketiga. Dan yang dapat memenuhi perut anak Adam hanyalah tanah (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa halus Nabi ﷺ menggambarkan sifat dasar manusia. Kita mengejar tanpa henti, seolah dunia mampu memberikan jaminan abadi. Sering kali manusia baru tersadar betapa kecil dirinya ketika musibah mengetuk pintu. Ketika gempa merobohkan bangunan megah, ketika banjir menelan sawah dan kebun, ketika angin memporak-porandakan ternak dan harta, barulah manusia memahami bahwa tidak ada yang benar-benar miliknya.

Allah pun mengingatkan:

﴿مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ﴾
“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Ayat ini menjadi pegangan bagi siapa pun yang ingin menguatkan hati. Dunia yang kita kejar bisa lenyap kapan saja, tetapi amal saleh yang kita kirim untuk akhirat akan kekal mengiringi kita.

Musibah sebagai Pintu Kebaikan

Ketika seseorang mengalami kehilangan, ia sering berkata bahwa hidup terasa hampa. Namun kekosongan itu sesungguhnya ruang yang Allah sediakan agar kita mengisinya dengan iman. Dalam banyak riwayat, musibah justru menjadi tanda kebaikan bila dihadapi dengan sabar dan muhasabah. Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini tampak bertolak belakang dengan persepsi manusia bahwa musibah adalah keburukan. Padahal, dalam pandangan iman, musibah adalah pintu penghapus dosa, alat penyuci hati, dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ia seperti cambuk lembut yang mengingatkan kita agar tidak terlalu jauh melangkah dalam kelalaian.

Mengubah Dunia Menjadi Ladang Akhirat

Bila dunia tiba-tiba menjadi menakutkan, bukan berarti Allah menjauh. Justru pada saat-saat itulah Allah sedang mendekatkan kita pada kesadaran hakiki. Kita diajak untuk memaknai bahwa apa pun yang kita miliki hanyalah titipan. Kita diminta untuk tidak sombong, tidak bangga berlebihan, dan tidak lalai dalam syukur.

Dalam hidup, manusia selalu diberi dua pilihan: menjadikan dunia sebagai tujuan atau sebagai jembatan menuju akhirat. Bila dunia hanya menjadi tujuan, maka ia akan menghancurkan. Tetapi bila dunia dijadikan ladang amal, maka setiap harta akan mendatangkan keberkahan. Rumah bisa menjadi tempat ibadah yang menenangkan. Sawah dan kebun bisa menjadi sumber sedekah yang mengalirkan pahala. Hewan ternak bisa menjadi ladang amal bila pemiliknya tidak menahan hak orang lain.

Semua kembali pada orientasi hati.

Allah memberi pesan tegas:

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾
“Berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa adalah ketenangan sejati. Ia adalah jaring keselamatan ketika dunia runtuh. Ia adalah sinar yang tak padam meski harta habis, rumah roboh, atau kebun tenggelam. Musibah yang kita alami sering kali justru menguatkan takwa bila kita menanggapinya dengan renungan yang jujur.

Pada akhirnya, setiap kejadian adalah pelajaran. Tidak ada musibah yang sia-sia. Semua menjadi cermin untuk melihat kembali betapa kecilnya diri dan betapa besarnya kasih sayang Allah. Semoga apa pun yang terjadi, kita menjadi pribadi yang lebih dekat, lebih tunduk, dan lebih teguh berjalan menuju-Nya dengan hati yang bersih. Semoga setiap musibah menjadi muhasabah, dan setiap muhasabah menjadi jalan perbaikan diri yang tak pernah berhenti. (*)

Read more: https://klikmu.co/ketika-dunia-tak-lagi-kokoh/

Posting Komentar

0 Komentar