KABARMUH.ID, Jakarta – Peluncuran buku Spiritual Changemakers: Lentera Perubahan dari Keberagaman untuk Bumi dan Kemanusiaan tidak hanya menjadi momentum perayaan karya kolaboratif lintas iman, tetapi juga ruang refleksi melalui diskusi publik. Sesi diskusi menghadirkan aktivis lingkungan sekaligus tokoh lintas iman, yaitu Prigi Arisandi, Parid Ridwanuddin dari GreenFaith Indonesia, dan Pdt. Meilany Risamasu dari GPIB Karang Satria.
Ketiga narasumber ini mewakili beragam latar belakang, namun memiliki satu titik temu: spiritualitas dapat menjadi energi yang menggerakkan aksi nyata bagi kelestarian bumi. Diskusi berlangsung hangat dengan menekankan pentingnya empati, aksi bersama, serta pemanfaatan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi perubahan sosial-ekologis.
Pdt. Meilany dalam paparannya menekankan pentingnya empati kepada seluruh ciptaan melalui gerakan green church. Ia menyampaikan bahwa gereja memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran umat terhadap isu lingkungan. Dengan menanamkan nilai kasih kepada seluruh makhluk hidup, gereja dapat menjadi ruang belajar dan praktik nyata bagi umat dalam merawat bumi.
Sementara itu, Prigi Arisandi mengangkat isu mendesak tentang ancaman mikroplastik yang semakin meluas di lingkungan hidup. Ia menekankan bahwa anak muda perlu turun langsung ke lapangan agar empati mereka tidak berhenti pada wacana, tetapi tumbuh menjadi aksi nyata. “Sementara Prigi menyoroti ancaman mikroplastik, sembari mendorong anak muda terjun langsung agar empati mereka tumbuh menjadi aksi nyata.”
Tidak berhenti di situ, Prigi juga menekankan pentingnya strategi komunikasi dalam mendorong keterlibatan publik. Menurutnya, memvisualkan informasi menjadi bagian dari upaya mengajak dan memanggil orang-orang untuk bergerak. “Adapun Prigi Arisandi menekankan pentingnya memvisualkan informasi sebagai bagian dari upaya mengajak dan memanggil orang-orang untuk bergerak. Perlu juga ditampilkan cerita-cerita baik, dan berbagai opsi kegiatan menarik yang sudah diinisiasi di lapangan, sebagai contoh gerakan perubahan yang bisa dilakukan.”
Dari perspektif GreenFaith Indonesia, Parid Ridwanuddin menegaskan bahwa perubahan sosial tidak lahir begitu saja. “Parid Ridwanuddin menegaskan bahwa perubahan tidak lahir dari ruang kosong, melainkan bisa lahir dari nilai keyakinan, yang berawal dari panggilan bahwa manusia bisa saling bekerjasama menjaga kelestarian bumi untuk generasi yang akan datang.” Ia menekankan bahwa spiritualitas memberi arah dan dorongan moral, yang kemudian diwujudkan dalam kolaborasi lintas iman.
Diskusi ini menegaskan bahwa gerakan lintas iman bukan sekadar ruang pertemuan simbolis. Lebih jauh, ia merupakan arena praksis yang melibatkan empati, akal sehat, dan spiritualitas yang mendorong lahirnya perubahan sosial-ekologis. Pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya menjadikan iman dan spiritualitas bukan hanya keyakinan pribadi, melainkan landasan bersama untuk membangun dunia yang adil, damai, dan lestari.
Kontributor : Farah
0 Komentar