Oleh Muhamad Amanulloh, Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan
Bahasa adalah cerminan identitas dan jati diri suatu bangsa. Melalui bahasa, masyarakat membangun cara berpikir, berkomunikasi, dan mengekspresikan budaya mereka. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, keberadaan bahasa Indonesia kini dihadapkan pada tantangan besar, yakni gempuran bahasa Inggris. Pengaruh bahasa Inggris begitu kuat hingga merasuki hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hiburan, hingga percakapan sehari-hari. Pertanyaannya, mampukah kita menjaga kelestarian bahasa Indonesia tanpa menutup diri dari kemajuan global?
Persepsi Bahwa Bahasa Inggris Lebih Bergengsi dan Modern
Di era modern, penggunaan bahasa Inggris memang tidak dapat dihindari. Di dunia kerja, para pekerja secara implisit dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Inggris karena mereka dihadapkan pada istilah-istilah asing dalam keseharian, seperti “deadline”, “meeting”, “target”, ataupun “progress” Bahkan, dalam dunia pendidikan, istilah-istilah, seperti “assignment”, “presentation”, dan “literature review” sudah menjadi hal biasa. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa Inggris dianggap lebih modern, profesional, dan bergengsi dibanding bahasa Indonesia. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai merasa bahwa menggunakan bahasa Indonesia secara penuh dianggap “kurang keren”.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dari penggunaan bahasa Inggris dalam nama-nama merek dan tempat usaha. Banyak kafe, toko pakaian, hingga perusahaan lokal yang memilih nama berbahasa Inggris agar terdengar lebih menarik, misalnya “Coffee Break”, “Urban Style”, atau “Dream Space”. Bahkan, lembaga pendidikan dan media sosial juga ikut meniru tren ini. Padahal, penggunaan bahasa Indonesia yang baik tidak mengurangi nilai estetik maupun profesionalitas. Contohnya “Kopi Kenangan” atau “Janji Jiwa” yang tetap mampu sukses dan eksis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang khas dan mudah diingat.
Selain itu, media sosial turut mempercepat pergeseran kebiasaan berbahasa. Generasi muda sering mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam satu kalimat, misalnya “Aku feeling good banget hari ini” atau “Jangan overthinking, just go with the flow”. Meskipun tampak modern dan ekspresif, kebiasaan ini perlahan mengikis kemampuan menggunakan bahasa Indonesia secara utuh dan benar. Anak muda mulai kehilangan kepekaan terhadap makna dan keindahan bahasanya sendiri. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi berikutnya akan semakin jauh dari akar kebahasaan nasional.
Namun, perlu diingat bahwa bahasa Inggris bukanlah musuh. Bahasa ini tetap penting sebagai alat komunikasi global dan sarana menambah wawasan. Yang perlu dikedepankan adalah kemampuan menempatkan kedua bahasa sesuai konteks. Dalam dunia internasional, bahasa Inggris tentu dibutuhkan. Tetapi dalam konteks nasional dan kebudayaan, bahasa Indonesia seharusnya tetap menjadi pilihan utama. Kemampuan bilingual bahkan bisa menjadi keunggulan jika digunakan dengan bijak bukan menggantikan, melainkan melengkapi.
Regulasi Tak Cukup, Kesadaran Adalah Kunci
Pemerintah sebenarnya telah berupaya menjaga eksistensi bahasa Indonesia. Melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik diwajibkan. Namun, regulasi saja tidak cukup. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama. Sekolah, media, dan lembaga publik harus berperan aktif menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia. Guru dan dosen perlu menanamkan pemahaman bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga lambang persatuan dan identitas bangsa.
Selain itu, industri kreatif juga bisa berperan besar. Film, musik, dan konten digital yang menggunakan bahasa Indonesia dengan menarik akan membantu meningkatkan citra bahasa nasional. Lihat saja kesuksesan film “Laskar Pelangi” atau lagu-lagu dari Musisi, seperti Fiersa Besari dan Nadin Amizah yang menggunakan bahasa Indonesia dengan indah, puitis, dan menyentuh hati. Karya-karya seperti ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia bisa tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah kemajuan zaman.
Peluang dan Tantangan di Era Digital
Di era digital ini, bahasa Indonesia menghadapi paradoks yang menarik. Di satu sisi, platform digital membuka peluang besar bagi bahasa Indonesia untuk berkembang dan menjangkau jutaan pembaca. Konten dalam bahasa Indonesia di YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya semakin berkembang pesat. Namun, di sisi lain, platform yang sama juga menjadi medan pertempuran di mana bahasa Inggris terus mendominasi. Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang menggunakan bahasa Inggris karena jangkauannya yang lebih luas secara internasional.
Oleh karena itu, generasi muda perlu diberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga bahasa Indonesia. Bukan dengan cara melarang atau menganggap tabu, tetapi dengan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki daya tarik tersendiri yang unik dan berpengaruh. Kampanye kesadaran linguistik harus dibuat semenarik mungkin agar resonan dengan gaya hidup digital generasi muda.
Penutup: Membangun Masa Depan Bersama Bahasa Indonesia
Pada akhirnya, menjaga bahasa Indonesia bukan berarti menolak bahasa asing. Justru dengan mencintai bahasa sendiri, kita dapat berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan jati diri. Bahasa Inggris mungkin membuka pintu ke dunia global, tetapi bahasa Indonesia adalah rumah tempat kita kembali. Jika bangsa ini ingin maju tanpa kehilangan arah, maka sudah sepatutnya kita menempatkan bahasa Indonesia di hati dan keseharian kita sebagai simbol persatuan, kebanggaan, dan kebudayaan yang tak ternilai.
Kesuksesan menjaga bahasa Indonesia tidak terletak pada pertentangan antara bahasa lokal dan global, melainkan pada pemahaman bijak bahwa kedua-duanya dapat berkembang beriringan. Dengan mengedepankan kesadaran kultural, dukungan kebijakan yang tepat, dan kreativitas dalam mengemas konten berbahasa Indonesia, kita dapat menciptakan generasi yang bangga berbahasa Indonesia namun tetap kompeten dalam bahasa global. Bahasa Indonesia adalah warisan nenek moyang yang harus terus dijaga agar tetap hidup untuk generasi mendatang.
Editor: Muhammad Farhan
Read more: https://kabarmuh.id/ketika-bahasa-indonesia-menjadi-bahasa-kedua-di-negara-sendiri/
0 Komentar