Kader Kintilan VS Kader Ideologis: Siapa yang paling baik?

Oleh Ahmad Fauzi Almubarok, Ketua Bidang Kader PD IPM Lampung Tengah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam FAI UM Metro

Istilah kader merujuk pada sesosok individu yang terlibat, terbina,dan disiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan didalam Organisasi. Kader menjadi kunci utama pergerakan, dimana Kader inilah yang menggerakkan dan menginisiasi sebuah kegiatan. Maka dari itu, biasanya organisasi mempunyai forum khusus dalam meng-kader, bisa berupa pelatihan berhari-hari atau sampai ber-bulan-bulan tergantung dengan kebutuhan.

Muhammadiyah dikenal dengan organisasi kader, karena didalam Muhammadiyah itu sendiri terdapat banyak organisasi dibawahnya, Yaitu pengklasifikasian atau pengelompokkan individu sesuai dengan usia atau tingkatannya. Seperti contohnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),yang bergerak diranah pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang bergerak diranah Kemahasiswaan, Nasyiyatul Aisyiyah (NA), yang bergerak pada pemberdayaan perempuan muda, Pemuda Muhammadiyah (PM) yang bergerak pada pemuda, dan Aisyiyah, yang bergerak pada pemberdayaan perempuan. Ada juga Organisasi kepelatihan seperti, Hizbul Wathan (gerakan kepanduan) dan Tapak Suci (Perguruan Pencak Silat milik Muhammadiyah). Masing-masing Organisasi ini, diberikan oleh Muhammadiyah kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka dibuatlah AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga).

Dalam membentuk kadernya-pun punya cara tersendiri. Ambil contoh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IPM dalam mengkader secara ideologis memiliki 4 tingkatan, yaitu Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati 2, Pelatihan Kader Madya Taruna Melati 3, dan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama. Namun, walaupun IPM masif dalam pelaksanaan perkaderan tersebut, ternyata banyak juga kader IPM yang mengawali karier ber- IPM nya karena menjadi kader kintilan dan malah bertahan lebih lama, kok bisa? Lalu apa sih kader kintilan itu?

Kader kintilan adalah sebuah istilah, Kintilian sendiri diambil dari bahasa jawa “kintil” yang memiliki arti mengikuti atau membuntuti. Jadi, kader kintilan adalah orang yang selalu mengikuti, hadir dalam kegiatan organisasi, biasanya kader seperti ini mengikuti kegiatan karena diajak pimpinan organisasi, misalnya diajak ketua atau anggota lainnya, meskipun dia sendiri belum tahu makna dari organisasi. Namun kekuatan ternyata juga tumbuh pada kader kintilan, dari seorang individu yang polos tak tahu apa-apa berubah menjadi kader yang loyalis dan berdiri digarda terdepan organisasi. Lalu, apa sih bedanya kader kintilan dengan kader ideologis?.

Bedanya hanya pada cara memulai didalam organisasi tersebut. Kader kintilan memulai kariernya dengan ikut-ikutan tanpa punya tujuan dan rutin selalu ia lakukan, senantiasa mengindahkan ajakan para pimpinan organisasi. Sedangkan kader ideologis memulai dari pemikiran dan tujuan pasti yang ia dapat dari hasil proses pelatihan kader. Ia memahami mengapa organisasi itu ada, apa visi ideologinya, dan ke mana arah gerakannya. Kader ideologis biasanya lahir dari proses perkaderan formal: pelatihan, diskusi ideologi, penguatan nilai, dan pembiasaan sikap.

Ia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara gagasan dan sikap. Kader tipe ini mampu menjelaskan identitas organisasi, membela nilai-nilainya, serta menjaga arah gerak organisasi agar tidak keluar dari rel ideologisnya. Dalam IPM, kader ideologis umumnya lahir dari proses Taruna Melati yang berjenjang. Kader diperkenalkan pada nilai keislaman, kemuhammadiyahan, ke-IPM-an, serta dilatih untuk berpikir kritis dan reflektif. Mereka memahami bahwa IPM bukan sekadar organisasi kegiatan, tetapi ruang perjuangan pelajar untuk membangun peradaban. Maka tidak heran, kader ideologis sering kali tampil sebagai konseptor, perumus gagasan, atau penjaga marwah organisasi.

Sementara itu, kader kintilan sering kali dipandang sebelah mata. Ia hadir tanpa proses ideologisasi yang matang di awal. Datang karena diajak, ikut karena dekat dengan pimpinan, atau sekadar ingin meramaikan kegiatan. Dalam banyak forum, kader kintilan kerap dicap sebagai “tidak paham ideologi”, “tidak tahu sejarah”, bahkan dianggap beban organisasi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Kader kintilan justru sering menjadi tulang punggung keberlangsungan kegiatan. Mereka hadir konsisten, membantu teknis lapangan, mengisi kekosongan peran, dan menjaga ritme organisasi tetap hidup. Tanpa banyak wacana, mereka bekerja. Tanpa banyak klaim, mereka setia. Menariknya, tidak sedikit kader kintilan yang justru bertahan lebih lama dibanding kader ideologis yang secara teori lebih siap. Di sinilah kita perlu jujur: organisasi tidak hanya hidup dari gagasan, tetapi juga dari kehadiran dan kesetiaan. Ideologi tanpa kader yang mau bergerak hanya akan menjadi teks mati. Sebaliknya, gerakan tanpa arah ideologis akan kehilangan makna dan tujuan. Maka memperhadapkan kader kintilan dan kader ideologis sebagai dua kutub yang saling meniadakan adalah kekeliruan.

Dalam praktiknya, banyak kader ideologis yang gugur di tengah jalan karena terlalu sibuk pada tataran wacana, sementara kader kintilan perlahan tumbuh kesadarannya seiring proses berorganisasi. Dari sering ikut kegiatan, mendengar diskusi, melihat teladan pimpinan, hingga akhirnya memahami nilai dan tujuan organisasi. Tidak sedikit kader ideologis yang sejatinya berangkat dari kader kintilan.Masalahnya bukan pada titik awal kader masuk organisasi, melainkan apakah organisasi mampu mengelola dan menumbuhkan kesadaran kader tersebut.

Kader kintilan yang dibiarkan tanpa pendampingan akan stagnan. Namun kader kintilan yang dirangkul, diajak berpikir, dan diberi ruang bertumbuh justru berpotensi menjadi kader ideologis yang militan. Sebaliknya, kader ideologis yang tidak diberi ruang aktualisasi juga bisa menjauh dan kehilangan semangat.

Maka, peran organisasi sangat menentukan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada forum formal semata, tetapi harus hidup dalam keseharian organisasi. Ideologi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kader tidak hanya diuji pada pemahaman konsep, tetapi juga pada konsistensi sikap dan keberpihakan.
Jadi, siapa yang paling baik?

Tidak ada yang paling baik secara mutlak. Kader kintilan dan kader ideologis adalah sama-sama kader yang semestinya dijaga. Karena kembali lagi, siapa yang paling mau dan siapa yang paling bertahan. Kader ideologis menjaga arah, kader kintilan menjaga gerak. Kader ideologis memberi makna, kader kintilan memberi tenaga.

Keduanya saling membutuhkan.Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana seseorang memulai langkahnya di organisasi, tetapi sejauh mana ia mau bertahan, belajar, dan bertumbuh. Organisasi besar bukan hanya melahirkan kader yang pintar berbicara tentang ideologi, tetapi juga kader yang setia membersamai perjuangan, dari tahap paling sederhana hingga tanggung jawab paling besar.

Dan bisa jadi, kader terbaik adalah mereka yang pernah menjadi kader kintilan, lalu memilih untuk berproses menjadi kader ideologis—tanpa kehilangan kerendahan hati dan kesediaan untuk terus bergerak.

Read more: https://kabarmuh.id/kader-kintilan-vs-kader-ideologis-siapa-yang-paling-baik/

Posting Komentar

0 Komentar