KABARMUH.ID, Kediri — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri yang tengah melaksanakan KKN di Kelurahan Pakelan melakukan kunjungan edukatif ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri, pada hari ini. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, nilai-nilai keagamaan, serta praktik toleransi yang hidup dan terjaga di tengah masyarakat multikultural.
Klenteng Tjoe Hwie Kiong merupakan salah satu klenteng tertua di Kediri. Bangunan bagian depan berdiri sejak tahun 1817, sedangkan bangunan belakang dibangun pada 1935, dan berada di bawah naungan Yayasan Tri Dharma Tjie Hwie Kong. Klenteng ini juga memiliki sejarah penting, di antaranya pernah tenggelam pada tahun 1955 akibat luapan Sungai Brantas yang pada masa lalu berfungsi sebagai jalur pelabuhan. Sebagai upaya pelestarian, lantai klenteng kemudian dinaikkan sekitar 75cm. Hingga kini, klenteng tersebut berstatus sebagai cagar budaya hidup, yakni cagar budaya yang tetap dapat dibenahi atau diperbaiki jika mengalami kerusakan.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai Tri Dharma, yaitu perpaduan ajaran Buddha, Konghucu, dan Tao, yang dipraktikkan secara harmonis di klenteng ini. Ibadah bersama Tri Dharma secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek, dengan aturan dan tradisi pakem yang tidak boleh diubah oleh siapapun, meskipun kepengurusan dilakukan secara bergantian. Sementara itu, umat tetap diperkenankan melaksanakan ibadah pribadi sesuai tradisi masing-masing.
Salah satu figur sentral yang dikenalkan kepada mahasiswa adalah Mak Co (Tian Shang Sheng Mu), Dewi Laut yang dipercaya sebagai pelindung para pelaut. Mak Co diyakini semasa hidupnya merupakan anak nelayan yang mampu membaca cuaca. Pada masa lampau, para pelaut selalu membawa patung Mak Co dalam pelayaran, dan menitipkannya di klenteng ketika kapal bersandar. Klenteng Tjoe Hwie Kiong juga memiliki keterkaitan historis dengan pelayaran Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim dari Tiongkok yang dikenal melakukan ekspedisi maritim hingga tujuh kali dan berperan dalam jalur perdagangan serta penyebaran Islam di Nusantara.
Selain sebagai tempat ibadah, Klenteng Tjoe Hwie Kiong juga berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya, seperti seni Barongsai dan Leong. Menariknya, sekitar 90 persen anggota Barongsai bukan berasal dari etnis Tionghoa, karena kini Barongsai telah berkembang sebagai cabang olahraga di bawah KONI, terintegrasi dengan wushu, serta menjadi sarana pembelajaran bahasa Mandarin bagi generasi muda.
Mahasiswa KKN juga memperoleh pemahaman mendalam tentang ajaran Konghucu, yang menekankan pentingnya hubungan antarmanusia melalui nilai laku bakti dan perbaikan diri secara berkelanjutan. Dalam praktik ibadah, digunakan dupa berjumlah ganjil, umumnya tiga batang, sebagai simbol doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. Ajaran Konghucu, Buddha, dan Tao masing-masing menekankan keharmonisan dengan sesama manusia, seluruh makhluk hidup, dan alam semesta.
Pengurus klenteng menegaskan bahwa esensi dari seluruh tradisi tersebut bukan semata ritual, melainkan upaya menjaga kerukunan dan toleransi. “Kita kumpul yang penting bagaimana kita bisa menjaga kerukunan, bincang-bincang, tanpa membahas agama,” ujar Bapak Prayitno Sutikno selaku ketua pengurus klenteng yang memberikan informasi pada kunjungan hari ini. Nilai ini sejalan dengan identitas Kota Kediri sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi yang tinggi.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri berharap dapat memperluas wawasan kebangsaan, memperkuat sikap saling menghargai antarumat beragama, serta membawa nilai-nilai toleransi tersebut dalam pengabdian mereka di Kelurahan Pakelan dan di tengah masyarakat luas. (Monica Luvitasari)
Editor: Hammam Alghazy
0 Komentar