Lelucon Jadi Guru: Tertawa di Tengah Laporan Keuangan Negara

Oleh: Khosiyatika, M.Pd, (Ketua Bidang IMMawati Jawa Tengah, Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga)

Jadi guru itu kadang seperti jadi pelawak, harus tetap menghibur meski isi dompet dan kepala sama-sama kosong. Tapi siapa sangka, lelucon terbesar datang bukan dari kelas, tapi dari gedung kementerian.

Belum lama ini, Sri Mulyani Menteri Keuangan yang terkenal tegas dan cerdas itu mengeluarkan pernyataan soal gaji guru, anggaran pendidikan, atau soal efisiensi dana negara. Katanya, anggaran pendidikan 20% dari APBN sudah besar. Sudah maksimal. Bahkan katanya, “Pemerintah sudah banyak berkorban.”

Wah, kami sebagai guru jadi ingin tertawa, bukan karena lucu, tapi karena ternyata kita semua sedang bermain di panggung komedi yang serius. Pemerintah bilang sudah berkorban, tapi guru-guru di pelosok masih korbankan waktu, tenaga, bahkan biaya sendiri untuk mengajar.

Kadang guru harus mengajar sambil jadi tukang parkir, tukang ojek, bahkan jualan cilok di kantin sekolah. Tapi tetap saja, katanya kami harus ikhlas. Mungkin ini bentuk pengabdian tingkat langit: “Kalau bisa hidup dari oksigen dan niat baik, kenapa harus dibayar?”

Lalu datang lagi wacana efisiensi. Guru honorer katanya beban anggaran. Tapi mengangkat influencer jadi pejabat itu katanya investasi komunikasi. Mungkin kita harus ganti jurusan saja: dari PGSD ke KPI (Komunikasi Politik dan Influencer).

Tapi tenang, kami para guru sudah terbiasa. Kami bisa membuat anak-anak tertawa sambil mengajarkan matematika. Kami bisa tetap semangat walau gaji belum masuk. Dan kami bisa terus mencintai negeri ini, meski kadang negeri ini seperti pacar toxic: kami yang berjuang, dia yang bilang, “Kamu kurang berterima kasih.”

Read more: https://kabarmuh.id/lelucon-jadi-guru-tertawa-di-tengah-laporan-keuangan-negara/

Posting Komentar

0 Komentar