Oleh: Arif Rahmatullah, M. Pd, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Kalimantan Timur
Pernahkah kita merasa heran mengapa masjid kini lebih ramai oleh jamaah paruh baya, sementara wajah-wajah muda semakin jarang terlihat? Bukan berarti anak muda hilang imannya, tapi ada jarak yang membuat mereka merasa masjid bukan lagi ruang yang akrab.
Sebuah penelitian dari PPIM UIN Jakarta (2023) menunjukkan bahwa remaja lebih banyak belajar agama dari media digital, podcast, atau influencer ketimbang dari masjid. Mereka terbiasa dengan konten singkat, bahasa sederhana, dan ruang interaksi yang cair. Ketika masjid hanya menawarkan format lama yaitu ceramah panjang, komunikasi satu arah yang akhirnya menyebabkan mereka merasa kurang terhubung.
Padahal, masjid sejatinya bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat kehidupan sosial. Studi terbaru menegaskan bahwa shalat berjamaah bisa memperkuat ikatan sosial antarjamaah. Jika anak muda tidak ikut hadir, masjid kehilangan denyut kaderisasi dan energi generasi penerus.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, kita perlu jujur melihat kenyataan. Masjid harus membuka ruang partisipasi bagi anak muda, bukan sekadar menjadikan mereka penonton. Bayangkan jika mereka dilibatkan sebagai penggerak acara, tim kreatif media sosial masjid, atau bahkan penanggung jawab kegiatan sosial—mereka akan merasa memiliki, bukan hanya mampir.
Kedua, mari benahi desain ruang masjid. Banyak remaja enggan datang bukan karena tidak mau beribadah, tetapi karena mereka merasa kaku, tidak punya ruang untuk belajar atau berdiskusi. Penelitian mutakhir tentang *youth-friendly mosque* menekankan pentingnya ruang ramah remaja: pojok baca, area diskusi, hingga fasilitas yang membuat mereka betah tanpa mengurangi kekhusyukan jamaah.
Ketiga, masjid bisa menjadi pusat pengembangan diri. Kita bisa hadirkan mentoring karier, kelas beasiswa, pelatihan digital, atau bazar UMKM pemuda. Hasil riset manajemen masjid menunjukkan bahwa ketika masjid menawarkan program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, tingkat keterlibatan mereka meningkat signifikan.
Keempat, jangan lupakan organisasi remaja masjid. Banyak Remas vakum karena minim pendampingan. Padahal, riset terbaru menegaskan bahwa dengan pembagian peran yang jelas dan target program sederhana, organisasi pemuda bisa hidup kembali dan menjadi motor penggerak kegiatan masjid.
Intinya sederhana: anak muda bukanlah masalah, mereka adalah potensi. Tugas kita bukan menghakimi jarak mereka dari masjid, melainkan menjemput mereka dengan cara yang ramah, relevan, dan penuh kepercayaan. Jika masjid berhasil memberi ruang tumbuh, berkreasi, dan berkontribusi, maka saf-saf kita tidak lagi sunyi, justru akan kembali hidup dengan energi generasi penerus.
Read more: https://kabarmuh.id/masjid-dan-generasi-muda-menjemput-yang-pergi-merangkul-yang-rindu/
0 Komentar