Literasi Adalah Ruh Intelektual dalam Tubuh IMM

Oleh: Agung Rezki (Ketua Umum PK IMM FAI UMY)

Farid Fathoni dalam bukunya kelahiran yang dipersoalkan menjelaskan bahwa, salah satu sejarah kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berdiri disaat kader Muhammadiyah memandang organisasi Muhammadiyah sudah meninggalkan budaya intelektualnya.

Keresahan dari cendekiawan muda Muhammadiyah ini, menginisiasi terbentuknya IMM sebagai organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah. Jika di analisa dari visi dan misi Muhammadiyah terpampang dengan jelas bahwa, “terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, menunjukkan ada hal yang ingin dijunjung dan dibentuk berupa masyarakat ilmiah. Hal ini berintegrasi dengan tujuan IMM untuk mengusahakan akademisi Islam berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah.

Tujuan yang begitu mulia, yang ketika di rawat akan menjadi maslahat untuk kebaikan bersama, yakni terbentuknya Indonesia emas. Akan tetapi, IMM tidak seindah dulu, buku sistem perkaderan ikatan mahasiswa muhammadiyah yang diterbitkan di tahun 2021 menarasikan bahwa kaderisasi tidak lagi menjadi ruh di IMM. Pada narasi inilah kita mengambil kesimpulan bahwa kaderisasi yang di dalamnya terdapat pembelajaran, pendidikan, pengontrolan dan pembekalan hanya menjadi training formal sehingga mengalami distorsi makna. Oleh karena itu, ada beberapa analisis yang perlu kita lakukan untuk merawat literasi dalam tubuh IMM, berupa:

Penyegaran Metode Perkaderan

Pergerakan dan perkaderan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam tubuh IMM. Orientasi perkaderan yang bertujuan menggerakkan kader untuk selalu belajar, menganggap organisasi sebagai ruang belajar menimba ilmu secara berjenjang. Pergerakan yang berorientasi kepada perjuangan Muhammadiyah untuk bergerak di lingkup mahasiswa, agama, dan masyarakat. Kedua ciri khas ini tentunya sudah memiliki format yang mapan yang bisa dijadikan panduan perkaderan IMM. Akan tetapi, ada hal-hal yang kurang dikontekstualkan dalam perkaderan saat ini, yaitu metode. Era sekarang yang dikenal dengan era disrupsi, mendorong setiap manusia untuk bisa beradaptasi dengan dunia teknologi.

Adanya informasi yang sulit dicari kebenarannya, beragamnya video yang tidak senonoh, akun penipuan, dan lahirnya buzzer-buzzer ternyata mengubah pandangan masyarakat terhadap apa yang diterima. Tentunya ini tidak masalah yang kecil, harus ada penyegaran-penyegaran yang diimplementasikan agar masalah terkurangi. Pada konteks perkaderan, strategi yang terlalu rapi ternyata tidak bisa dipaksakan terimplementasi pada diri kader, harus ada pengkontekstualan yang menjadikan kader memiliki rasa kepemilikan yang tinggi.

Hal ini juga dibantu pada pernyataan di dalam buku Muslim Tanpa Masjid, “Ideologi bersifat tertutup”, maka strategi perkaderan yang rapi harus diarahkan pada metode yang relevan dengan zaman . Sebagai contoh yang bisa diterapkan adalah alur dari input-proses-output-outcame bisa diganti dengan input-output-outcame-proses, seperti metode deep learning yang memasukkan joyful learning, meaningful learning, dan mindful learning dalam pembelajarannya.

Perkaderan Digital

Teknologi digital ternyata memiliki daya tawar berupa flexibility dan effeciency, memudahkan dalam penggunaan belajar dan mencari segala informasi, mengurangi daya beli yang menyulitkan berinovasi. Kedua hal itulah yang menyebabkan manusia terkhusus kader, lebih dekat dengan dunia digital dari pada teman-teman perkaderannya. Analisa yang bisa dilihat sekarang adalah penggunaan media digital memengaruhi interaksi sosial menurun, menjadikan manusia semakin individual dan egois. Akan tetapi, perkembangan ini tidak boleh hanya dianggap sebagai bumerang atau kambing hitam kemunduran ummat.

Manusia harus mulai menggunakan dunia digital sebagai ladang belajar, di dalam perkaderan tentunya sudah ada beberapa settingan yang mendorong perkaderan digital ini muncul; sinkronous langsung, sinkronous maya, asinkronous mandiri dan asinkronous kolaboratif. 4 setinggan inilah yang menjadi treathment untuk menjadikan perkaderan lebih terarah dan tepat sasaran di era sekarang.

Bayangkan saja ketika metode pembelajaran atau metode perkaderan Hybrid Learning menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan sebagai cara agar dimanapun ilmu perkaderan tetap tersebar. Tak lupa pula, dunia digital yang diisi dengan berbagai media, tidak hanya dijadikan sebagai bahan dokumentasi dan propaganda acara semata, tetapi orientasinya harus dirubah menjadi tempat perkaderan pembelajaran yang menyesuaikan sehingga dapat menyebarkan nilai secara mudah.

Kesimpulan

Degradasi intelektual, minimnya minat baca dan literasi oleh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus segera diselesaikan. Tentunya masalah ini bisa menjadi bumerang bagi ikatan sendiri yang memiliki orientasi intelektual yang tinggi. Oleh karenanya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus bisa memandang jauh kedepan, bekerjasama secara kolektif agar semua permasalahan literasi terselesaikaan dengan cepat sehingga tidak menjadi belenggu masa depan Muhammadiyah.

Read more: https://kabarmuh.id/literasi-adalah-ruh-intelektual-dalam-tubuh-imm/

Posting Komentar

0 Komentar