Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang
Kadang hidup harus remuk terlebih dahulu sebelum seseorang memahami makna sejati dari cinta, terutama cinta terhadap dirinya sendiri dalam bingkai iman. Ketika seseorang pernah jatuh di titik paling rendah, lalu Allah menuntunnya untuk bangkit, ia tidak lagi memandang hidup dengan cara yang sama. Ia belajar memilah siapa yang membawa cahaya, dan siapa yang justru menambah kelam di hatinya.
Orang yang pernah hancur dan kemudian sembuh dengan pertolongan Allah akan memiliki kepekaan luar biasa terhadap hal-hal yang merusak batin. Ia tidak lagi mudah terjebak dalam hubungan atau situasi yang menguras jiwa. Ia mulai memahami firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi cermin bahwa kebangkitan batin selalu dimulai dari perubahan dalam diri. Saat seseorang memutuskan untuk berhenti menyakiti dirinya sendiri dengan membiarkan orang, kenangan, atau lingkungan yang beracun pergi, itu bukan egoisme, tetapi bentuk penyelamatan diri yang Allah ridai.
Mencintai Diri dalam Perspektif Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan hanya berbicara tentang cinta kepada sesama, tetapi juga tentang keseimbangan antara mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri. Bagaimana seseorang dapat tulus mencintai jika ia sendiri kehilangan kasih kepada dirinya yang telah Allah ciptakan dengan penuh kemuliaan?
Mereka yang telah melewati masa-masa gelap belajar bahwa mencintai diri bukan berarti sombong atau menolak orang lain, melainkan menjaga amanah Allah berupa jiwa. Ia lebih selektif dalam bergaul, lebih sadar akan energi yang diterima, dan lebih memilih diam daripada kembali ke tempat yang dulu hampir menghancurkan batinnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 195:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Menjaga diri dari hal-hal yang menghancurkan, termasuk secara emosional dan spiritual, adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Menjauh dari lingkungan yang toksik, hubungan yang melemahkan iman, atau orang-orang yang menjauhkan dari Allah adalah ibadah—jihad kecil melawan nafsu dan keterikatan dunia.
Kekuatan Hati dan Cinta Sejati
Hidup menuntut seseorang belajar dari luka, tetapi luka yang disertai zikir menjadi jalan pulang kepada Allah. Orang yang pernah hancur lalu bangkit tidak lagi sibuk menuntut dunia memahami dirinya; ia hanya ingin hatinya tenang di hadapan Allah. Ia sadar, ketenangan bukan datang dari cinta manusia, tetapi dari kecukupan cinta Allah.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Orang yang kuat dalam iman akan menolak hal-hal yang merusak ketenangan dan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan.” (HR. Muslim)
Menemukan “self love” dalam Islam berarti menyadari bahwa diri ini milik Allah, yang harus dijaga, disembuhkan, dan diarahkan pada kebaikan. Cinta diri dalam iman adalah bentuk syukur karena menjaga ciptaan-Nya dengan penuh hormat.
Ketika seseorang memutus hubungan atau menjauh dari keramaian, itu bukan sombong, tetapi proses menyelamatkan diri dari luka lama. Mereka menata hati agar tetap bersih dari racun dunia. Orang yang hancur lalu bangkit akan lebih berhati-hati mencintai, lebih selektif memberi, dan lebih tulus berdoa. Kebahagiaan sejati muncul dari kedekatan dengan Allah, bukan sekadar kehadiran manusia di sekitarnya. (*)
Read more: https://klikmu.co/menemukan-cinta-diri-dalam-cahaya-iman/
0 Komentar